Nutrisi pakan memegang peranan penting dalam produktivitas unggas. Pemberian pakan dengan kandungan nutrisi sesuai kebutuhan sangat diperlukan karena berpengaruh terhadap pertambahan berat badan dan produksi telur. Nutrisi yang diperlukan unggas sangat beragam, yaitu energi, lemak, protein, asam amino dan multivitamin. Salah satu jenis asam amino esensial yang penting untuk unggas adalah triptofan.
Triptofan (C11H12N2O2) adalah asam amino esensial unggas dengan fungsi utama untuk sintesis protein serta senyawa pembentuk melatonin dan serotonin. Triptofan diserap ke dalam tubuh dan diubah menjadi serangkaian senyawa bioaktif dan metabolit sekunder. Beberapa senyawa terpentingnya meliputi 5-HTP, serotonin, melatonin, kinurenin, dan niasin. Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal di otak dengan fungsi mengatur kegiatan tidur dan bangun. Sementara itu, serotonin adalah senyawa kimia di dalam otak yang berfungsi sebagai pembawa berita (neurotransmitter).
Serotonin terlibat dalam pengaturan emosi, manajemen perilaku, dan pemeliharaan siklus tidur. Melatonin dapat memengaruhi ritme sirkadian, suasana hati, tidur, dll. Kemampuan triptofan untuk menghasilkan serotonin dan melatonin inilah yang menjadi alasan mengapa triptofan umumnya diberikan kepada anjing, kuda, dan hewan lainnya untuk mengurangi kecemasan, stres, dan perilaku agresif.
Triptofan dapat meningkatkan imunitas karena melatonin merangsang perkembangan sel imun (Chen et al., 2016; Guo et al., 2015; Moore & Siopes, 2000) dan mendorong pertumbuhan bakteri menguntungkan (Bifidobacterium and Lactobacillus) dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Clostridia, Enterobacteria, dan Campylobacter.
Serotonin dominan saat unggas beraktivitas di siang hari, sedangkan melatonin bekerja dominan selama periode istirahat di malam hari. Kedua hormon tersebut juga berperan dalam pengaturan tekanan darah, temperatur tubuh, konsumsi pakan, pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak pada unggas (Corzo et al., 2013). Triptofan tidak disintesis di dalam tubuh, harus disediakan melalui pakan terutama berasal dari biji-bijian.
Persentase Triptofan dalam Ransum Unggas
Triptofan merupakan asam amino pembatas keempat setelah lisin, metionin dan treonin. Kandungan triptofan di dalam pakan unggas tidak terlepas dari imbangannya dengan lisin. Rasio optimal triptofan dan lisin berdasarkan rekomendasi National Research Council (1994) dan standar pembibit (breeder) ayam komersil. Rekomendasi triptofan dari breeder lebih tinggi daripada NRC, karena disesuaikan dengan potensi produksi unggas modern yang terus berkembang.

Peran Triptofan
Triptofan berperan untuk mengoptimalkan proses metabolisme tubuh, sehingga performa unggas menjadi optimal
1. Meningkatkan performa ayam broiler
Triptofan dapat meningkatkan performa broiler dengan meningkatkan konsumsi pakan. Menurut Emadi et al. (2015), konsumsi pakan meningkat 6% pada broiler yang diberi pakan tinggi triptofan. Triptofan berfungsi sebagai senyawa pembentuk neurotransmitter serotonin. Peningkatan jumlah serotonin yang terbentuk dapat meningkatkan nafsu makan ayam, akhirnya konsumsi pakan meningkat.
Corzo et al. (2013) dalam penelitiannya membuktikan bahwa meningkatknya kandungan triptofan dalam ransum semakin meningkatkan performa broiler umur 1-20 hari yang dilihat dari konsumsi ransum (Grafik 1), pertambahan berat badan (Grafik 2) dan feed conversion ratio (FCR)-nya (Grafik 3). Triptofan dapat mengoptimalkan performa broiler pada pemberian ransum dengan kandungan triptofan total sebesar 2,1-2,3 g/kg.

2. Mengoptimalkan produksi telur
Triptofan dapat meningkatkan performa layer. Menurut Lima et al. (2012) produksi telur, berat telur dan egg mass meningkat seiring dengan meningkatnya kandungan triptofan di dalam pakan. Hasil terbaik diperoleh pada pemberian pakan dengan kandungan triptofan tercerna sebesar 1,99 g/kg atau rasio triptofan : lisin tercerna sebesar 25%.
Triptofan mampu meningkatkan produksi telur dengan cara meningkatkan keaktifan magnum saat memproduksi albumen atau putih telur. Akibatnya proses pembentukan telur dicapai dalam waktu yang lebih cepat. Triptofan meningkatkan produksi mucus (lendir) dari epitelium magnum, sehingga memungkinkan telur melewati oviduk dalam waktu yang cepat. Berkaitan dengan berat telur, triptofan dapat meningkatkan produksi albumen, sehingga berat telur juga meningkat.

Gambar 1 terlihat bahwa sel epitel magnum memroduksi lebih banyak lendir (panah merah) dengan meningkatnya kadar triptofan dalam ransum yang akan mempercepat laju telur melewati oviduk. Aktivitas magnum dalam memroduksi albumen pun nampak lebih tinggi (panah hitam), sehingga berat telur akan meningkat.
Peningkatan pun nampak pada bagian uterus ayam. Pada Gambar 2 terlihat bahwa dengan meningkatnya kandungan triptofan dalam ransum, lipatan-lipatan pada uterus nampak lebih banyak (tanda bintang). Hal ini menandakan hiperplasia atau perbanyakan sel yang lebih tinggi pada uterus tersebut.
3. Mengoptimalkan pencernaan
Triptofan dapat mengoptimalkan pencernaan nutrien pakan dengan memperlebar ukuran vili-vili usus halus. Pada Gambar 3 terlihat bahwa meningkatnya rasio tercerna triptofan : lisin mampu meningkatkan lebar vili usus (garis merah), sehingga luas permukaan untuk meyerap nutrien pakan meningkat. Semakin banyak nutrien ransum yang diserap maka performa ayam juga meningkat.
4. Mengurangi perilaku mematuk bulu
Salah satu masalah kesejahteraan hewan yang cukup serius pada pemeliharaan layer adalah adanya perilaku mematuk bulu. Perilaku ini ditandai dengan kegiatan ayam mematuki bulu penutup tubuh ayam lainnya secara berulang. Mematuk bulu berakibat pada rusaknya sebagian bulu bahkan sampai tercabut dan dimakan oleh ayam yang mematuk.

Disamping karena faktor stres lingkungan dan perlakuan, ternyata mematuk bulu dapat disebabkan oleh kekurangan asam amino triptofan. Menurut Hidayat (2019), serotonin yang dibentuk dari asam amino triptofan merupakan senyawa pemicu ketenangan yang berkaitan dengan perilaku agresif ternak. Sementara itu, bulu unggas tersusun atas keratin, yaitu suatu protein dengan kandungan asam amino triptofan. Saat unggas mengalami defisiensi triptofan, mereka akan mengonsumsi bulu dalam rangka memenuhi kekurangan asam amino tersebut. Tambahan triptofan dari bulu akan digunakan ayam untuk memroduksi serotonin yang akhirnya memberikan efek menenangkan pada tubuh mereka.
5. Meningkatkan sistem imun
Triptofan memegang peranan penting dalam pengaturan kekebalan humoral. Limpa, timus dan bursa fabricius adalah organ-organ kekebalan di mana sel-sel limfosit mengalami proliferasi dan diferensiasi yang berperan dalam respon imun. Triptofan akan mengoptimalkan perkembangan organ-organ kekebalan tersebut, sehingga respon imun tubuh unggas akan meningkat (Bai et al., 2016).
Disamping itu, menurut Emadi et al. (2015), katabolisme atau penguraian triptofan dapat menjaga kondisi homeostatis sel T dan meningkatkan respon sel T tersebut saat tubuh mengalami peradangan. Triptofan mengatur fungsi sistem imun tubuh dalam kondisi fisiologis yang berbeda. Saat unggas berada di bawah kondisi stres dan adanya peradangan di dalam tubuh, penguraian triptofan akan meningkat untuk mendukung diferensiasi sel-sel limfosit dan produksi imunoglobulin untuk meningkatkan respon imun unggas.







