{"id":745,"date":"2021-12-28T22:19:23","date_gmt":"2021-12-28T15:19:23","guid":{"rendered":"https:\/\/fenanza.id\/?p=745"},"modified":"2021-12-28T22:20:29","modified_gmt":"2021-12-28T15:20:29","slug":"mengatasi-wet-dropping-pada-unggas-melalui-penambahan-mycotoxin-binder","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/mengatasi-wet-dropping-pada-unggas-melalui-penambahan-mycotoxin-binder\/","title":{"rendered":"Mengatasi Wet Dropping pada Unggas Melalui Penambahan Mycotoxin Binder"},"content":{"rendered":"<style><\/style>\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"745\" class=\"elementor elementor-745\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-9cd9b96 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"9cd9b96\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-b877bcf\" data-id=\"b877bcf\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a7a98bd elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a7a98bd\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><strong>Pertanyaan :<\/strong><\/p><p>Daryanto \u2013 Pasuruan, Jawa Timur<\/p><p>Kami formulator dari\u00a0\u00a0salah satu feedmill yang memproduksi pakan broiler di daerah Jawa Timur.\u00a0\u00a0Saat ini kami sedang mengalami kendala yang cukup serius, dimana pakan broiler yang kami produksi menyebabkan unggas mengalami\u00a0<em>wet dropping.\u00a0<\/em>\u00a0Melalui kesempatan ini kami ingin menanyakan solusi dari permasalahan tersebut dan apakah ada suplementasi dari\u00a0<em>feed additive<\/em>\u00a0yang tepat yang bisa mengatasinya.\u00a0<\/p><p><strong>Jawaban<\/strong>\u00a0:<\/p><p>Dear Bapak Daryanto,<\/p><p>Terima kasih atas pertanyaannya. Terus terang ini adalah suatu pertanyaan yang sulit-sulit gampang mengingat bahwa penyebab\u00a0<em>wet dropping<\/em>\u00a0pada peternakan ayam broiler tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tapi oleh banyak faktor bahkan kombinasi dari faktor-faktor tersebut.\u00a0\u00a0\u00a0Namun demikian, kami akan sedikit memberikan pemikiran tentang\u00a0<em>wet dropping<\/em>.\u00a0<\/p><p>Kotoran basah (<em>wet dropping)<\/em>\u00a0merupakan salah satu permasalahan klasik pada peternakan unggas di negara tropik seperti di Indonesia. Kondisi iklim yang hangat dan lembab, sistem pemeliharaan yang masih sederhana, tingkat stres lingkungan yang tinggi merupakan beberapa penyebab dari permasalahan ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa w<em>et dropping<\/em>\u00a0merupakan penyakit non-infeksius yang disebabkan karena faktor eksternal (lingkungan) dan intrinsik (kelebihan ekskresi air). W<em>et dropping<\/em>\u00a0juga dapat disebabkan karena diare yang merupakan penyakit infeksius pada saluran pencernaan akibat adanya gangguan nutrisi atau karena adanya agen infeksius seperti virus, bakteri, parasit, mikotoksin, malabsorbsi, dll.<\/p><p><strong>Manajemen kandang<\/strong><\/p><p>Kelalaian pengontrolan suhu, kelembaban, dan densitas (kepadatan) ayam di dalam kandang akan menyebabkan ayam mengalami\u00a0<em>heat stress\u00a0<\/em>sehingga ayam lebih\u00a0<a href=\"http:\/\/dokterternak.com\/2012\/08\/08\/heat-stress-stress-karena-panas-penjelasan-gejalaciri-resiko-dan-penanganannya-www-dokterternak-com\/\">banyak minum<\/a>\u00a0dibandingkan makan, dan feses yang dikeluarkan memiliki konsistensi lebih cair atau lembek.<\/p><p>Penyebab\u00a0<em>wet dropping<\/em>\u00a0yang paling sering ditemukan dalam pakan adalah bahan baku (biji-bijian) yang berjamur karena penyimpanan yang kurang sempurna, sehingga menghasilkan mikotoksin. Meskipun tidak semua jamur menghasilkan racun, namun tidak ada jaminan bahwa bahan baku pakan yang digunakan terbebas dari kontaminasi mikotoksin, terutama jenis aflatoksin dan T-2 toksin\u00a0yang menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan menyebabkan terjadinya kasus\u00a0<em>wet dropping (diare)<\/em>.\u00a0<\/p><p>Kondisi pakan yang kurang bagus tersebut dapat memperbesar resiko meningkatnya FCR (Feed Conversion Rate), karena tingkat kematian lebih tinggi.\u00a0<em>\u00a0<\/em>Selain itu\u00a0<em>wet dropping<\/em>\u00a0dapat disebabkan karena protein yang tidak tercerna dengan baik, sehingga menyebabkan kotoran basah yang mengandung amonia dan menimbulkan bau busuk. Bau busuk yang ditimbulkan dapat menyebabkan ayam mudah terkena penyakit pernafasan.\u00a0Sementara itu mikotoksin jenis ochratoxin A, citrinin, dan oosporin dapat menyebabkan perubahan fungsi ginjal seperti terjadinya poliuria (produksi urin yang berlebihan) sehingga feses menjadi basah yang pada akhirnya bisa menurunkan\u00a0<em>feed intake<\/em>.\u00a0Turunnya sistem pertahanan tubuh ayam, serta respon vaksin yang tidak maksimal, juga dapat menyebabkan kejadian\u00a0<em>wet dropping<\/em>.<\/p><p>Salah satu langkah pencegahan selain peningkatan sanitasi adalah\u00a0<em>Mycotoxin Risk Assessment<\/em>, yaitu analisa kadar mikotoksin bahan baku yang akan digunakan (dapat dilakukan oleh Fenanza Laboratory Team). Apabila hasil menunjukkan adanya paparan mikotoksin, kemudian ditentukan batas level toleransi kadar mikotoksin dan efek yang timbul pada ayam (referensi standar).\u00a0\u00a0<\/p><p>Adapun suplemen kesehatan non antibiotik yang kami sarankan adalah pemberian agen pengikat mikotoksin yang diperkaya dengan senyawa\u00a0<em>herbal medicine<\/em>\u00a0yaitu\u00a0<strong>MASTERSORB,<\/strong>\u00a0untuk dosis pencegahan adalah 0,5 kg per ton pakan. Namun jika sudah terjadi\u00a0<em>outbreak<\/em>, maka dosis pengobatan harus dilakukan adalah 2 kg per ton pakan (<em>inclusion<\/em>\u00a0pada pakan) selama 1 minggu berturut-turut atau sampai gejala klinis mereda.<\/p><p><strong>MASTERSORB<\/strong>\u00a0adalah produk\u00a0<em>Mycotoxin Binder<\/em>\u00a0yang mampu memberikan pencegahan dini terhadap kasus terakumulasinya mikotoksin pada tubuh ayam terutama pada saluran pencernaan karena Mastersorb merupakan\u00a0\u00a0<em>Mycotoxin binder<\/em>\u00a0yang berkualitas dan mampu mengikat toksin dengan konsentrasi tinggi (<em>high adsorbing<\/em>), bersifat mengikat kuat lebih dari 1 jenis mikotoksin (<strong>punya spektrum luas<\/strong>\u00a0dalam mengikat berbagai jenis toksin), efektif mengikat mikotoksin meskipun dengan dosis rendah, tahan terhadap pemanasan\u00a0<em>pelleting<\/em>\u00a080-85<sup>0<\/sup>C pada proses pembuatan pakan, dan tidak mengikat nutrisi mikro dalam pakan seperti vitamin dan mineral.\u00a0<strong>MASTERSORB<\/strong>\u00a0sebagai masternya pengikat mikotoksin memberikan 2 pilihan produk yaitu\u00a0<strong>MASTERSORB FM<\/strong>\u00a0untuk pemeliharaan regular seperti broiler, dan\u00a0<strong>MASTERSORB GOLD<\/strong>\u00a0untuk menanggulangi akumulasi mikotoksin yang lebih komplek terutama untuk breeder dan layer.\u00a0\u00a0Demikian yang dapat kami sampaikan semoga bisa menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi\u00a0<em>wet dropping<\/em>\u00a0pada unggas yang mengkonsumsi pakan broiler yang bapak produksi.\u00a0\u00a0Salam.<\/p><p>(Trobos &#8211; Jan,2019)<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanyaan : Daryanto \u2013 Pasuruan, Jawa Timur Kami formulator dari\u00a0\u00a0salah satu feedmill yang memproduksi pakan broiler di daerah Jawa Timur.\u00a0\u00a0Saat ini kami sedang mengalami kendala yang cukup serius, dimana pakan broiler yang kami produksi menyebabkan unggas mengalami\u00a0wet dropping.\u00a0\u00a0Melalui kesempatan ini kami ingin menanyakan solusi dari permasalahan tersebut dan apakah ada suplementasi dari\u00a0feed additive\u00a0yang tepat yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":752,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-745","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-dialog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=745"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=745"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=745"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=745"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}