{"id":3776,"date":"2023-09-27T16:08:38","date_gmt":"2023-09-27T09:08:38","guid":{"rendered":"https:\/\/fenanza.id\/?p=3776"},"modified":"2023-09-27T16:11:04","modified_gmt":"2023-09-27T09:11:04","slug":"fatty-liver-dan-prolapsus-pada-unggas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/fatty-liver-dan-prolapsus-pada-unggas\/","title":{"rendered":"Fatty liver dan Prolapsus Pada Unggas"},"content":{"rendered":"<style>.elementor-3776 .elementor-element.elementor-element-a7a98bd{column-gap:0px;text-align:justify;}<\/style>\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3776\" class=\"elementor elementor-3776\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-9cd9b96 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"9cd9b96\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-b877bcf\" data-id=\"b877bcf\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a7a98bd elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a7a98bd\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>\u00a0 Ternak unggas menjadi salah satu komoditas ternak yang paling banyak diminati di Indonesia dibandingkan komoditas lainnya, dengan jumlah populasi ternak unggas tertinggi di Asia Tenggara menandakan pegiat bisnis ternak unggas Indonesia cukup mendominasi pasar. Tidak dipungkiri dengan peminat yang banyak bisnis ini juga diintai berbagai jenis penyakit maupun virus, khususnya pada tipe petelur atau layer unggas rentan terkena penyakit Fatty liver atau penumpukan lemak pada hati dan juga prolapsus atau keluarnya uterus unggas betina.<\/p><p><strong>Fatty liver<\/strong> disebabkan oleh dua faktor utama diantaranya obesitas dan perlemakan hati yang disertai pendarahan, serta faktor lainnya yang dapat mempengaruhi yaitu, Genetik, Suhu Kandang, Nutrisi, Stres, Mycotoxin, dan juga hormon.<\/p><p><strong>Faktor Genetik<\/strong><\/p><p>Secara genetik strain ayam memiliki kepekaan yang berbeda, tingkat ptoduksi telur yang tinggi, serta metabolism estrogen secara intensif.<\/p><p><strong>Faktor Nutrisi<\/strong><\/p><p>Nutrisi terserap yang tidak seimbang seperti, ada konsumsi energi yang berlebih, perbandingan antara protein dan energi yang tidak seimbang pada pakan, dan juga kekurangan kalsium pada ternak.<\/p><p><strong>Faktor Suhu &amp; Kandang<\/strong><\/p><p>Iklim yang panas dapat meningkatkan asam lemak dalam hati, serta penggunaan jenis kendang baterai serta kepadatan kendang yang tinggi mendorong kandungan lemak dalam hati lebih tinggi dikarenakan ruang gerak ayam yang rendah.<\/p><p><strong>Faktor Toksin dan Hormon<\/strong><\/p><p>Pakan dengan bahan baku kualitas rendah yang disebabkan cuaca yang tidak teratur dapat dengan mudah dihinggapi jamur, jamur yang memproduksi racun Aflatoxin (Aspergillus flavus) yang mengontaminasi ransum pakan dengan kadar 20 PPB dapat menyerang ternak. Akibatnya, akan terjadi penurunan produksi telur serta berat telur yang dihasilkan dapat lebih besar dari biasanya. Terserangnya ternak oleh Aflatoxin ditandai dari organ hati yang berwarna kekuningan dan ukurannya yang membesar.<\/p><p><strong>Faktor Hormon<\/strong><\/p><p>Hormon dalam tubuh ternak yang tidak stabil juga dapat menyebabkan fatty liver seperti, kadar estradiol yang tinggi dalam plasma, adanya interaksi hormon dan energi, Produksi estrogen berlebih, lipogenesis yang tidak bereaksi dengan proses umpan balik, Serta Rendahnya kadar hormon tiroid yang melemahkan fungsi hati akan menghasilkan terdeposisinya lemak dalam hati.<\/p><p>\u00a0<\/p><p><strong>Pencegahan <em>Fatty Liver<\/em><\/strong><\/p><p>Fatty liver yang mengancam ternak dapat dicegah dengan berbagai cara diantaranya, membatasi asupan energi atau menurunkan EM pada pakan, memilih jenis biji-bijian yang digunakan dalam pakan dikarenakan penggunaannya mempengaruhi kandungan lemak dalam hati, subtitusi jagung dengan pollard, gandum, atau cantel, penambahan tepung ikan, biji-bijian keting yang didestilasi serta evaluasi manajemen kendang untuk memastikan ternak terbebas dari kepadatan yang tinggi, suhu tinggi yang menyebabkan stress, membangun kendang dengan luas dan kapasitas yang baik factor yang memudahkan terjadinya fatty liver, serta menambakan obat \/ imbuhan pakan yang membantu menjaga kesehatan hati <em>(hepatoproktektor)<\/em><\/p><p><em>\u00a0<\/em><\/p><p><strong>Prolapsus<\/strong><\/p><p>Merupakan penyakit yang menyebabkan keluarnya saluran telur dari anus\/kloaka yang tidak dapat masuk kembali dikarenakan tidak lancaranya pengeluaran telur. Prolapsus disebabkan adanya peradangan pada saluran telur atau melemahnya otot-otot saluran reproduksi. Ayam atau unggas yang mengalami prolapsus harus segera dipisahkan untuk menghindari kanibalisme dan pendarahaan yang dapat mengakibatkan infeksi. Jika infeksi yang disebabkan bakteri berlanjut akan mengakibatkan peradangan selaput rongga perut (egg peritonitis)<\/p><p><strong>Kerugian Prolapsus<\/strong><\/p><p>Unggas yang terkena prolapsus akan berhenti berproduksi, menyebabkan infeksi dan kematian ayam serta dapat memicu kanibalisme. Hal tersebut dapat menimbulkan kerugian yang cukup banyak jika tidak ditangani segera.<\/p><p><strong>Gejala Awal<\/strong><\/p><p>Sebelum terjadinya prolapsus agar dapat memperhatikan gejala-gejalanya seperti, adanya lumuran darah pada kerabang telur, stimulasi kematangan seksial terlalu dini sebelum tumbuh dewasa, pemberian pakan layer terlalu dini dan vitamin penstimulan telur, serta adanya pendarahan pada saluran reproduksi.<\/p><p><strong>Penyebab Prolapsus <\/strong>diantaranya, Pemberian stimulasi cahaya yang terlalu dini<strong>, <\/strong>ayam terlalu gemuk dan terlalu kurus<strong>, <\/strong>kandungan nutrisi yang tidak seimbang<strong>, <\/strong>usia reproduksi<strong>, <\/strong>dan telur double yolk.<\/p><p><strong>Pemberian stimulasi cahaya terlalu dini <\/strong><\/p><p>Stimulasi cahaya yang terlalu dini akan mempercepat kedewasaan kelamin, penambahan cahaya dilakukan apabila organ reproduksi sudah siap. Penambahan cahaya lebih baik dilakukan saat pullet memasuki umur 18 minggu dan penambahan cahaya dilakukan secara bertahap dengan penambahan tiap minggu \u00bd &#8211; 1 jam setiap minggunya. Pada dasarnya ayam memerlukan cahaya sekitar 16 jam setiap hari, namun dengan adanya kemungkinan perbedaan situasi kendang peternak tidak bisa dipukul rata dan harus disesuaikan dengan manajemen yang berlaku.<\/p><p>\u00a0<\/p><p>\u00a0<\/p><p><strong>Ayam terlalu gemuk \/ kurus<\/strong><\/p><p>Ayam yang berbobot lebih dari standarnya memiliki perototan lebih lemah dan cenderung memproduksi telur dengan ukuran besar, lemak yang terdeposisi dalam tubuh juga akan menghambat proses produksi terlur. Berbeda dengan ayam dengan bobot rendah \/ kurus secara tidak langsung dipaksa bertelu sebelum organ reproduksinya sudah siap.<\/p><p><strong>Kangdungan nutrisi pakan tidak seimbang<\/strong><\/p><p>Pakan menjadi hal yang krusial dalam pertumbuhan ternak, dimana merupakan hidup pokok ternak. Nutrisi yang tepat akan membantu mendorong produktifitas dan memelihara kesehatan ternak. Ketidak seimbangan nutisi akan menyebabkan produksi tidak optimal, kandungan kalsium dalam pakan merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan untuk mengembangkan otot ternak. Kalsium yang ada dalam kandungan pakan juga harus dievaluasi penyerapannya dalam tubuh ayam.<\/p><p><strong>Usia reproduksi<\/strong><\/p><p>Produksifitas telur pada ayam sangat bergantung dengan usianya, jika kematangan reproduksi belum tercapai dapat menjadi pemicu terjadinya prolapsus. Masa awal produksi, puncak produksi, serta saat puncak bobot telur didapatkan harus diperhatikan dan dipantau perkembangannya. Tingkat metabolisme yang tinggi juga dapat menyebabkan prolapsus.<\/p><p><strong>Telur double yolk<\/strong><\/p><p>Jika disaat panen telur mendapatkan telur double yolk, maka harus ditingkatkan kembali pemantau terhadap manajemen pemeliharannya. Telur double yoil memiliki ukuran yang besar dimana akan meregangkan dan melemahkan otot kloaka saat produksi berlangsung. Lemahnya otot kloaka akan memperlama oviduct untuk berada di luat tubuh.<\/p><p><strong>Pencegahan Prolapsus<\/strong><\/p><ul><li>Pemberian tambahan cahaya pada saat ayam mencapai umur dan bb Yang direkomendasikan oleh masing -masing strain<\/li><li>Ransum pakan yang seimbang<\/li><li>Intensitas cahaya di kandang perlu diperhatikan<\/li><li>Pemberian pakan sesuai rekomendasi masing-masing strain<\/li><li>Segera dipisah ayam yang kanibal<\/li><li>Mengkontrol bb secara rutin dan ketat pada masa pullet<\/li><li>Jaga kondisi farm nyaman untuk ayam<\/li><\/ul><p><strong>Penanganan Priolapsus<\/strong><\/p><ul><li>Culling atau afkir ayam yang mengalami prolapsus<\/li><li>Seleksi ayam dengan bb melebihi standar<\/li><li>Tinjau kembali formulasi pakan<\/li><li>mengurangi jumlah pemberian pakan<\/li><\/ul>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ternak unggas menjadi salah satu komoditas ternak yang paling banyak diminati di Indonesia dibandingkan komoditas lainnya, dengan jumlah populasi ternak unggas tertinggi di Asia Tenggara menandakan pegiat bisnis ternak unggas Indonesia cukup mendominasi pasar. Tidak dipungkiri dengan peminat yang banyak bisnis ini juga diintai berbagai jenis penyakit maupun virus, khususnya pada tipe petelur atau layer [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3778,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-3776","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-dialog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3776","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3776"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3776\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3785,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3776\/revisions\/3785"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3778"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3776"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3776"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3776"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}