{"id":3531,"date":"2023-05-26T09:06:29","date_gmt":"2023-05-26T02:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/fenanza.id\/?p=3531"},"modified":"2023-05-26T09:49:02","modified_gmt":"2023-05-26T02:49:02","slug":"pengendalian-wfd-white-feces-disease-pada-budidaya-udang-vanname","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/pengendalian-wfd-white-feces-disease-pada-budidaya-udang-vanname\/","title":{"rendered":"Pengendalian WFD ( White Feces Disease) pada Budidaya Udang Vanname"},"content":{"rendered":"<style>.elementor-3531 .elementor-element.elementor-element-a7a98bd{column-gap:0px;}<\/style>\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3531\" class=\"elementor elementor-3531\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-9cd9b96 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"9cd9b96\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-b877bcf\" data-id=\"b877bcf\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a7a98bd elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a7a98bd\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-3534 size-full\" src=\"https:\/\/fenanza.id\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/WFD-Shrimp.png\" alt=\"\" width=\"795\" height=\"539\" srcset=\"https:\/\/fenanza.id\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/WFD-Shrimp.png 795w, https:\/\/fenanza.id\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/WFD-Shrimp-300x203.png 300w, https:\/\/fenanza.id\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/WFD-Shrimp-768x521.png 768w, https:\/\/fenanza.id\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/WFD-Shrimp-18x12.png 18w\" sizes=\"(max-width: 795px) 100vw, 795px\" \/><\/p><p>Serangan penyakit menjadi salah satu penghambat budidaya udang vanamei, terlebih jika membuat kerugian yang sangat besar. Seperti halnya mengetahui penyakit berak putih pada udang vaname. Penyakit pada udang vaname yang paling umum menyerang adalah\u00a0<em><strong>white feces disease<\/strong><\/em>\u00a0atau penyakit berak putih. Bukan hanya dapat menyebabkan kerugian ekonomi dalam skala ringan, penyakit ini juga bisa menyebabkan kerugian besar, bahkan gagal panen jika tidak dikendalikan dengan tepat. Pasalnya penyakit ini selain menurunkan FCR juga menghambat pertumbuhan sampai menurunkan <em>survival rate<\/em> udang dari 90 menjadi 70.<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Penyakit berak putih pada udang masih menjadi momok menakutkan bagi para petambak. Selain karena penyakit ini merupakan penyakit yang paling sering muncul pada tambak udang, penyakit ini juga menjadi salah satu penyakit paling mematikan bagi udang sehingga menimbulkan risiko kerugian yang besar.<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Serangan penyakit yang dikenal dengan kotoran putih\u00a0(WFD)\u00a0pada budidaya udang vaname saat ini telah\u00a0menyerang pada banyak kawasan terutama pada tambak intensif. Sebagai dampaknya <strong>nafsu makan udang menurun<\/strong>, kondisi udang kropos dan mati yang pada akhirnya\u00a0menurunkan produktivitas udang vaname.<\/p><p>\u00a0<\/p><p><em>White feces disease<\/em> atau WFD merupakan sebuah penyakit yang menyerang hepatopankreas usus dan hemolimp udang udang yang terserang penyakit ini ditemukan bakteri vibrio parahaemolyticus dan vibrio algynoliticus meskipun bakteri vibrio ini memang sudah ada pada tubuh udang namun sangat banyak ditemukan bakteri vibrio ini bagi udang yang sakit.<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Studi ekplorasi\u00a0 pada beberapa tambak yang terinfeksi\u00a0WFD telah dilakukan\u00a0untuk mengetahui kondisi lingkungan tambak yg terserang penyakit WFD serta untuk mengetahui\u00a0\u00a0\u00a0teknik pengendaliannya.\u00a0 Dari hasil studi eksplorasi \u00a0menunjukkan serangan WFD terjadi ketika :<\/p><p>\u00a0<\/p><ol><li>Warna air berubah menjadi kegelapan\u00a0 dengan dominasi plankton didominasi oleh jenis plankton BGA (<em>Blue Green Algae<\/em>).<\/li><li>Kandungan bahan organik air media tambak (TOM) yang tinggi lebih dari 250 ppm<\/li><li>Air tambak mengandung jumlah bakteri vibrio sp dengan dominasi lebih dari 12 % dari total bakteri.<\/li><li>Berdasarkan hasil indetifikasi pada usus udang menujukan adanya infeksi bakteri Vibrio alginolyticus, Vibrio\u00a0parahaemolyticus\u00a0dan Vibrio vulnificus. Bakteri ini merupakan penyebab awal munculnya WFD.<\/li><\/ol><p>\u00a0<\/p><p>Gejala klinis pada udang yang terkena penyakit WFD adalah <strong>munculnya kotoran udang berwarna putih yang mengambang<\/strong> di permukaan air kolam. Gejala ini diikuti dengan penurunan nafsu makan serta perubahan warna saluran pencernaan udang menjadi putih.<\/p><p>\u00a0<\/p><p><strong>Solusi pencegahan adalah sebagai berikut<\/strong>:<\/p><ol><li>Mengendalikan kesetabilan warna air dengan mengatur keseimbangan dan kestabilan plankton dengan mengatur nutrien C:N:P rasio. Perlakukan dengan aplikasi sumber carbon organik (molasses) dengan dosis 2-5 % dari\u00a0 total pakan yang diberikan setiap 2x seminggu. Aplikasi pupuk Nitrogen (pupuk ZA atau Urea) dengan dosis\u00a0 2-5 ppm setiap minggu.<\/li><\/ol><p>\u00a0<\/p><ol start=\"2\"><li>Penurunan kandungan bahan organik air tambak dengan cara pengenceran atau penambahan atau pergantian air dari petak tandon tiap hari sekitar 5%. Air yang digunakan untuk pengenceran harus sudah disetrilkan menggunakan desifektan untuk mengeliminir patogen virus atau bakteri.<\/li><\/ol><p>\u00a0<\/p><ol start=\"3\"><li>Menekan pertumbuhan bakteri vibrio dengan cara didesak mendorong pertumbuhan bakteri probiotik. Cara aplikasi adalah probiotik bacillus sp dilakukan aktivasi dengan menggunakan air tambak dalam wadah ember 20 lt, Tambahkan molasses sekitar 0,5 lt dan pupuk nitrogen (ZA) sebanyak 200 g. Ukur nilai pH pada larutan di ember tersebut dan biasanya nilai pH kurang dari 6. Tambah kapur sekitar 200 g hingga nilai pH naik menjadi 7. Masukan bibit probiotik sekitar -100-200 g kedalam ember dan dibiarkan 0,5-1 jam. Selanjutnya di tebar di tambak. cara ini dilakukan 1-2 kali seminggu. Untuk menjaga pertumbuhan bakteri probiotik di tambak dengan mengatur <strong>keseimbangan C\/N rasio lebih dari 16<\/strong> dengan melakukan penambahan karbon molasses (tetes tebu) dengan dosis 2-5 % dari total pakan yang yang telah digunakan. \u00a0Perlakukan 1-2 x seminggu. Selain itu untuk menekan vibrio bisa diaplikasikan probiotik jenis Lactobacillus sp yang terbukti efektif meurunkan jumlah vibrio di perairan tambak.<\/li><\/ol><p>\u00a0<\/p><ol start=\"4\"><li>Pengobatan bakteri vibrio pada usus dan hepatopankreas\u00a0 dapat dilakukan dengan menggunakan herbal kategori fitogenik seperti alicin (seperti ektrak bawang putih). Teknik yang dilakukan adalah dengan cara pemuasaaan udang selama 1 hari terutama pada malam hari. Dengan pemuasaan dan udang lapar maka nafsu makan akan meningkat. Pemberian pakan yang telah diperkaya dengan multivitamin dan ekstrak bawang putih setelah dipuasakan. Untuk pengobatan dapat dilakukan selama 2-3 hari hingga nafsu makan normal. Untuk pencegahan selanjutnya dapat dilakukan 2 x seminggu.<\/li><\/ol><p>\u00a0<\/p><ol start=\"5\"><li>Selain antibiotik alami, dapat diaplikasikan probiotik jenis Lactobacillus sp yang diberikan secara oral yaitu dengan dicampurkan di pakan. Dimana dalam saluran pencernaan udang bakteri Lactobacillus sp ini akan berkoloni memproduksi zat antimikroba yaitu \u2018<strong>Bakteriosin\u2019<\/strong> yang bisa <strong>menekan<\/strong> keberadaan vibrio di dalam saluran cerna udang.<\/li><\/ol>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Serangan penyakit menjadi salah satu penghambat budidaya udang vanamei, terlebih jika membuat kerugian yang sangat besar. Seperti halnya mengetahui penyakit berak putih pada udang vaname. Penyakit pada udang vaname yang paling umum menyerang adalah\u00a0white feces disease\u00a0atau penyakit berak putih. Bukan hanya dapat menyebabkan kerugian ekonomi dalam skala ringan, penyakit ini juga bisa menyebabkan kerugian besar, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-3531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3531"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3531\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3538,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3531\/revisions\/3538"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fenanza.id\/id_id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}